Tampilkan postingan dengan label Makanan Padat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Padat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2011

Kapan Waktu yang Tepat Beri Makanan Padat pada Bayi?


Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau makanan padat tepat waktu pada bayi sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan pertumbuhannya secara keseluruhan. Kapan waktu yang tepat memberi bayi makanan padat?

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2002 menyebutkan bahwa 53 persen penyebab kematian anak di bawah 5 tahun adalah karena gizi buruk atau kurang. Dan dua pertiga diantaranya berhubungan dengan pemberian makanan yang kurang tepat.

"Dua pertiga atau sekitar 60 persen dari 10,9 juta anak di dunia mengalami feeding practise (cara pemberian makan) yang salah," jelas DR Damayanti R Sjarif, Dr. Sp.A(K), Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, dalam acara Media Briefing 'Stimulasi Keterampilan Oromotor pada Anak' di Restoran Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Selasa (19/4/2011).

Menurutnya, cara pemberian makanan yang salah antara lain disebabkan karena beberapa hal berikut:

  1. Pemberian ASI yang kurang optimal. "Kurang dari 35 persen anak di dunia yang bisa mendapatkan ASI eksklusif," jelas DR Yanti.
  2. Kualitas dan kuantitas MPASI yang rendah atau buruk
  3. Praktik pemberian makanan padat yang salah, terlalu dini atau terlambat.
  4. Makanan yang tercemar.
"Usia 6-9 bulan adalah waktu terbaik untuk mengajarkan anak makanan padat. MPASI paling lambat diberikan di usia 6 bulan. Karena pada usia tersebut ASI sudah tidak mencukupi lagi untuk mikronutrien seperti zat besi, zinc, fosfat, magnesium dan natrium, sehingga harus ditunjang dengan MPASI. Jadi nggak boleh terlalu lamam memberi MPASI," lanjut DR Yanti yang juga dokter dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Dept. Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM.

Menurut DR Yanti, setelah usia 6 bulan terjadi gap atau kekurangan energi untuk mendukung aktivitas bayi yang semakin aktif, sedangkan pada waktu yang bersamaan produksi ASI semakin berkurang.

Disinilah adanya fase kritis pertama pengenalan makanan padat, yang ditambahkan selain ASI yang biasa disebut MPASI, untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI atau PASI (pengganti ASI atau susu formula bayi).

"Semakin terlambat pengenalan MPASI semakin besar gap kebutuhan energi yang terjadi. Tapi pemberian MPASI juga tidak boleh terlalu dini karena sistem pencernaan bayi belum siap," jelas DR Yanti.

Apa akibatnya bila makanan padat diberikan terlalu dini atau terlambat?

Terlalu dini
  1. Risiko diare, dehidrasi
  2. Produksi ASI menurun karena kurangnya stimulasi
  3. Sensitif alergi
  4. Gangguan tumbuh kembang.
Terlambat
  1. Potensial untuk terjadinya gagal tumbuh, menyebabkan stunting atau pendek
  2. Defisiensi atau kekurangan zat besi
  3. Gangguan tumbuh kembang.
"Pada usia 6 sampai 9 bulan bayi punya fase makan makanan keras yang bertekstur, kalau anak tidak diajarkan harus berhati-hati karena dampaknya bisa membuat anak susah makan di kemudian hari. Setelah usia ini, ketika anak masuk usia 1 tahun lebih, dia lebih suka main ketimbang makan. Dan ini seringkali terjadi anak menjadi susah makan karena terlambat diajarkan makan makanan padat," jelas DR Yanti.
Baca Informasi Kapan Waktu yang Tepat Beri Makanan Padat pada Bayi? Lebih Lengkap >>

Panduan Makan yang Aman Untuk Bayi


Makanan dan cara makan yang sepertinya biasa saja, bisa jadi berbahaya untuk bayi Anda.

Ketika bayi mulai bisa makan makanan semi-solid, Anda harus waspada akan kemungkinan bayi tersedak dan juga mengalami alergi makanan. Pada orang dewasa, tersedak makanan sepertinya biasa saja, tapi pada bayi ini bisa menyebabkan kematian bahkan oleh makanan yang semi-padat sekalipun. Untuk menghindari risiko mematikan pada bayi akibat makanan, berikut ini panduannya.

1. Jangan biarkan bayi seorang diri dengan makanan. Tetap perhatikan bayi Anda saat makan dan pelajari bagaimana menangani bayi tersedak sedini mungkin.

2. Hindari memberi kacang, stik biskuit, keripik, anggur, sosis dan makanan lain yang bisa menyebabkan bayi tersedak. Bayi hanya boleh diberi makan dalam bentuk gilingan lembut atau makanan yang mudah larut di mulut bayi.

3. Jangan beri madu sebelum 18 bulan. Madu adalah perantara Clostridium botulinum dan tidak bisa hilang oleh pemanasan. Racun botulinum bisa menyebabkan kelumpuhan dan masalah pernafasan pada bayi.

4. Hati-hati dengan riwayat alergi keluarga. Jika ada anggota keluarga yang alergi terhadap makanan tertentu, maka ada kemungkinan bayi Anda juga alergi. Diperlukan konsultasi dengan dokter anak untuk hal ini.

5. Jangan simpan sisa makanan bayi. Buat makanan dalam jumlah secukupnya, dan jika berlebihan harus dibuang karena setelah terkena air liur dan udara luar, makanan tersebut bisa terkontaminasi bakteri.

6. Jangan gunakan microwave untuk memanaskan makanan. Walaupun diaduk-aduk, panas dari microwave tahan lama dan bisa tersimpan dalam gumpalan-gumpalan makanan. Jika tidak diturunkan suhunya dengan baik, panas microwave bisa melukai mulut bayi Anda.

7. Jangan kurangi jumlah lemak pada makanannya. Bayi masih membutuhkan lemak untuk perkembangan tubuhnya, jadi jangan pilih makanan yang low fat atau reduce fat.

8. Jangan menaruh sereal atau bubur semi solid di botol bayi. Cara makan yang demikian membuat bayi lebih mudah tersedak dan tidak baik untuk pertumbuhan gigi bayi.

9. Jangan memberi makanan bayi saat di mobil. Guncangan saat berkendara, bahkan guncangan yang kecil saja bisa menyebabkan bayi tersedak. Jika harus memberinya, Anda harus memerhatikan saat dia makan.

10. Hati-hati dengan makanan yang lengket di gigi/gusi. Makanan bayi banyak yang kental dan lengket, jangan lupa seka gusi dan giginya dengan kain basah hingga dia cukup umur untuk menggosok gigi.
Baca Informasi Panduan Makan yang Aman Untuk Bayi Lebih Lengkap >>

Jumat, 29 Juli 2011

Cara Mengenalkan Makanan Padat pada Bayi


Mengubah kebiasaan makan bayi dari usia 0 - 6 bulan hingga 1 tahun butuh kreativitas ibu. Menurut Dr Fiastuti Witjaksono, SpGK, MS, peran ibu dimulai saat bayi mulai dikenalkan dengan makanan padat peralihan dari susu.

"Pengenalan bisa dimulai saat bayi berumur enam bulan. Jika terlambat nantinya anak tidak bisa mengunyah sempurna, dan dia akan ngemut ketika makan. Problemnya adalah ibu biasanya kurang telaten dalam mengenalkan makanan," papar dr Fiastuti dalam konferensi pers "100 % Nutrisi untuk Buah Hati" yang diadakan oleh MeadJohnson di Jakarta, beberapa waktu lalu. Padahal, kata dr Fiastuti, kemampuan mengunyah baik untuk stimulasi otot leher.

Untuk mengenalkan makanan padat untuk bayi Anda bisa mencoba beberapa trik berikut:

Berikan makanan tanpa rasa (plain)
Sebaiknya kenalkan anak sejak dini dengan rasa yang plain. Kurangi gula, garam, atau berikan susu tawar (bukan vanila apalagi cokelat). Jika sejak bayi anak dibiasakan makan makanan dengan variasi rasa, ketika balita anak akan cepat bosan dengan makanan. Sebaliknya, jika rasa plain yang dikenalkan pertama kali, begitu balita anak mulai menikmati makanan manis atau asin yang kemudian membuatnya lebih lahap makan. Terlalu sering memberikan makanan manis akan menyebabkan anak menjadi terlalu aktif. Jangan heran kalau anak masih senang dengan mainannya meski jam tidur sudah tiba.

Variasi menu yang cocok untuk anak
Biasanya demi kepraktisan, masakan dibuat seragam untuk dikonsumsi orangtua maupun anak-anak. Misalnya, Anda menyiapkan sayur bening dan perkedel jagung untuk makan siang, dan memberikan menu tersebut untuk si kecil. Cara ini menyulitkan bagi batita yang sedang belajar makanan barunya. Berikan variasi menu yang cocok untuk batita, dan bukan makanan orang dewasa.

Potong kecil-kecil
Dalam menyajikan makanan, sesuaikan dengan si anak. Jika Anda membuatkan roti isi, potong ukuran kecil dengan tampilan yang dekoratif. Buat anak melirik makanan, dan siap menyantapnya. Dengan begitu, mulut kecilnya bisa mengunyah perlahan, dan sajiannya pun membuat mereka senang makan.

Jangan campur makanan dengan air
Seberapa sering Anda mencampur nasi dengan sup untuk makanan si kecil? Cara ini ternyata tidak membantu anak untuk menghabiskan makanannya, apalagi jika anak butuh waktu lama untuk makan. Campuran nasi dengan sup membuat anak cepat kenyang karena makanan lebih padat. Jangan heran jika tiga kali suap, anak sudah tak nafsu makan.

Kombinasikan karbohidrat, protein, dan lemak
Asupan gizi dalam makanan harus diberikan bertahap. Tak perlu khawatir berlebihan jika komposisi makanan belum sempurna. Pastikan saja dalam setiap makanan anak mengandung karbohidrat, protein, dan lemak, dengan komposisi karbohidrat lebih besar (2/3 dari porsi makanan). Ukuran untuk melihat sejauh mana asupan gizi terpenuhi sederhana, berat badan harus sesuai usia. Anak dengan berat badan kurang bisa dikatakan kurang gizi, begitupun yang kelebihan berat badan. Namun, hal ini kembali kepada usia anak. Dr Fiastuti mengatakan ada rumusannya mengenai hitungan gizi, tapi sederhananya tiap tahun berat badan anak seharusnya naik sekitar 2 kg.

sumber : Trik Mengenalkan Makanan Padat pada Bayi
Baca Informasi Cara Mengenalkan Makanan Padat pada Bayi Lebih Lengkap >>