Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Membuat Bayi Gemar Membaca



Membaca adalah jendela dunia, Anda bisa menjelajahi apapun tanpa batas dalam sebuah buku. Tentunya akan sangat membanggakan bila buah hati Anda tumbuh menjadi sosok yang gemar membaca dan menjelajahi dunia dalam bantuan buku. Selain mendapa pengetahuan, banyak manfaat lain yang didapatkan dari membaca, salah satunya adalah mengembangkan imajinasi yang tidak didapat dari kegiatan menonton televisi.

Anak yang memiliki imajinasi baik biasanya akan tumbuh menjadi sosok yang kaya akan ide-ide baru, inspiratif dan kreatif. Anda bisa mulai mengenalkan kegemaran membaca pada buah hati Anda sedini mungkin. Tidak akan sulit, karena mengenalkan buku pada buah hati semudah memberinya mainan plastik. Tentu saja mengenalkan buku akan jauh lebih bermanfaat untuknya. Seperti dilansir situs Parenting, inilah cara yang bisa Anda tempuh agar bayi dan balita Anda hobi membaca buku.

1. Bicara Pada Bayi Sejak Lahir


Sekalipun bayi terlihat tidak memberikan respon apapun saat Anda berbicara dengannya, tetapi apa yang Anda ucapkan akan terekam di dalam otaknya. Saat dia mendengar banyak kata yang Anda ucapkan, maka dia akan terbiasa dengan kata-kata tersebut dan ini penting sebagai persiapan untuknya saat belajar membaca.

2. Pangku Bayi Anda.


Saat bayi Anda sudah bisa dipangku, maka ajaklah dia berkenalan dengan benda barunya, yaitu buku. Posisi yang nyaman adalah dipangku karena si bayi akan merasa paling nyaman bila dekat dengan ibunya, lakukan pada saat bayi merasa senang.

3. Biarkan Dia Memegang Bukunya

Benda apapun yang Anda tawarkan pada bayi Anda, akan menjadi sesuatu yang menarik perhatiannya, maka kemungkinan bayi Anda akan memegang dan menggigit buku yang Anda berikan. Biarkan saja, biarkan bayi Anda mengenal dan akrab dengan mainan barunya.

4. Pilih Buku Yang Tepat

Karena bayi Anda baru mengenal buku, pilih buku yang sekiranya tidak membuat si bayi merasa bosan. Misalnya buku dengan gambar 3D, atau buku dengan tulisan yang bersajak (biasanya dalam buku anak berbahasa Inggris) misalnya Hickory Dickory Dock. Ini akan lebih membantu si bayi melihat tulisan besar dan mengingat apa yang Anda katakan dari tulisan tersebut.

5. Perluas Kosa Kata

Saat bayi Anda telah sedikit besar, maka dia akan mulai mengucapkan kata-kata yang lebih mirip bergumam. Anda harus mengarahkan si balita dengan cara yang benar untuk memperbanyak perbendaharaan kata. Misalnya balita Anda mengatakan "Buu buu..." saat melihat buku, maka jawablah "Iya benar, ini buku. Buku warna biru," Maka secara tidak langsung, dia akan merekam kata-kata yang lain.

6. Jadilah Model Mereka

Balita akan menyerap apa saja. Anda tidak bisa berharap balita Anda akan gemar membaca jika Anda sendiri tidak pernah terlihat membaca di depannya. Maka habiskan waktu Anda bersamanya dengan juga membaca. Contoh yang Anda berikan akan meningkatkan motivasi balita untuk melakukan hal yang sama dengan orang tuanya.

7. Buat Mudah

Jangan meletakkan buku terlalu tinggi atau meletakkannya di dalam lemari yang terkunci. Pilah buku mana yang bisa diberikan untuk balita Anda, mana yang tidak. Biasanya balita yang belum bisa membaca akan meminta Anda untuk membacakan buku tersebut. Jika dia terus minta dibacakan buku kesukaannya berulang-ulang, jangan bosan. Pengulangan akan membuat balita semakin menyerap isi buku tersebut.

8. Buat Jadi Menyenangkan

Sekalipun penting, jangan membuat kegiatan membaca menjadi sesuatu yang menakutkan bagi bayi Anda. Buatlah kegiatan ini menjadi kegiatan yang menyenangkan seperti sebuah permainan. Nikmati kegiatan ini dengan diselingi menyanyi atau bermain kata, pasti akan sangat menyenangkan.

Tunggu apalagi? Ajak bayi Anda berkelana di dalam sebuah buku dan biarkan imajinasinya mengembara.
Baca Informasi Membuat Bayi Gemar Membaca Lebih Lengkap >>

Sabtu, 20 Agustus 2011

4 Manfaat Mendengar Musik untuk Si Kecil



Manfaat musik tidak sebatas untuk bayi baru lahir. Di hari-hari berikutnya, musik dapat dijadikan sebagai bagian hidup si kecil. Perdengarkanlah musik, sedikitnya tiga kali sehari. Di waktu pagi saat bangun tidur, pengantar tidur siang setelah lelah bermain, hingga sebagai senandung pengantar tidur.

Mendengarkan musik tidak hanya untuk kesehatan fisiknya, tapi juga kesehatan mental dan perkembangan otak atau kognitifnya. Berbasis penelitian, sejumlah ahli menyebutkan bukti-bukti manfaat mendengar musik untuk anak:

1. Meningkatkan kemampuan motorik.

Penulis buku Learning Before Birth: Every Child Deserves Giftedness, Dr Brent Logan, menyatakan, bayi (bahkan janin) yang mendengarkan musik, perkembangan detak jantung dan fisiknya menjadi lebih baik. Irama musik terbukti mampu menstimulus bayi untuk senang bergerak. Respons ini tentunya membantu perkembangan fisik bayi, dalam hal kekuatan, koordinasi dan kontrol motoriknya.

2. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Masih menurut Logan, musik bisa membantu perkembangan otak bayi dalam menerima informasi. Kemampuan ini kelak memengaruhi keterampilannya dalam berkomunikasi.

Pakar Neuroscience, Dr Dee Joy Coulter, yang juga penulis buku Early Childhood Connection: The Journal of Music and Moment-Based Learning, mendukung pernyataan ini. Menurut Coulter, permainan yang melibatkan musik akan cepat meningkatkan keterampilan berbahasa anak sekaligus cepat menambah kosakatanya. Kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang mampu mengorganisasikan ide serta cepat memecahkan masalah.

3. Memiliki pencernaan lebih baik.
Bayi yang terekspos musik akan memiliki pencernaan lebih baik karena rasa rileks yang diterimanya. Dampaknya, efisiensi metabolismenya meningkat dan akhirnya pertambahan berat badannya lebih baik.

4. Meningkatkan kemampuan matematika.
Menurut hasil penelitian psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine, Amerika Serikat, ada kaitan erat antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi. Juga keterampilan di bidang sains, ketika kelak anak sudah bersekolah. Musik juga mampu meningkatkan inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebanyak 46 persen dibanding anak-anak yang tidak terekspos musik.
Baca Informasi 4 Manfaat Mendengar Musik untuk Si Kecil Lebih Lengkap >>

Jumat, 12 Agustus 2011

Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres



Risiko gangguan mental dan perkembangan otak bayi paling akurat jika dideteksi melalui skrining hormon. Namun secara kasat mata, beberapa perilaku selama proses tumbuh kembang bayi juga bisa dipakai untuk mendeteksi gangguan tersebut.

Dimulai sejak baru lahir, kondisi otak dikatakan relatif normal jika bayi tersebut langsung menangis. Jika tidak menangis, ada kemungkinan bayi tersebut kekurangan suplai oksigen di otaknya akibat berbagai hal yang bisa mempengaruhi perkembangan otak.

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah kuning memanjang, atau penyakit kuning yang tidak sembuh hingga lebih dari 20 hari. Bayi yang mengalami kondisi seperti ini berisiko mengalami gangguan pada fungsi otak, sehingga membutuhkan intervensi pengobatan.

Bayi lahir prematur dengan berat badan di bawah 2.500 gram juga berisiko mengalami gangguan perkembangan otak. Tiap tahun, kondisi berat badan kurang diperkirakan terjadi pada 550 ribu bayi di Indonesia atau 11,5 persen dari 5 juta angka kelahiran dalam setahun.

"Perkembangan otak pada bayi baru lahir normalnya baru 42 persen, lalu pada usia sekitar 6 tahun sudah akan mencapai 98 persen. Kita menyebut 6 tahun pertama sebagai golden period sehingga harus dioptimalkan," ungkap Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Indonesia, Dr dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS usai seminar Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental di Hotel Twin Plaza, Jl Jend S Parman, Jakarta Pusat, Rabu (25/5/2011).

Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak pada bayi juga bisa dipengaruhi oleh kondisi hormon terutama tiroid. Kekurangan hormon tiroid memicu Hipotiroid Kongenital, yang jika terlambat mendapat pengobatan bisa mengakibatkan retardasi atau keterbelakangan mental.

Pemeriksaan hormon tiroid hingga saat ini belum diwajibkan oleh pemerintah, namun Dr Rachmat menilai skrining tersebut sangat penting untuk dilakukan. Hipotiroid Kongenital seringkali baru menampakkan gejala ketika sudah terlambat, yakni setelah bayi berusia 3 bulan.

Gejala Hipotiroid yang tidak tertangani antara lain sebagai berikut:

  1. Lidah membesar (makroglosia)
  2. Sakit kuning berkepanjangan (lebih dari 20 hari)
  3. Pusar bodong (hernia umbilical)
  4. Berat badan dan tinggi badan kurang.

Lebih lanjut Dr Rachmat menambahkan, gangguan perkembangan otak yang bukan dipicu oleh Hipotiroid Kongenital bisa juga diamati dari beberapa indikator sebagai berikut.

1. Kemampuan motorik kasar
Normalnya bayi mulai bisa menegakkan leher di usia 3 bulan, duduk usia 6 bulan, berdiri usia 9 bulan dan berjalan usia 1 tahun. Jika bayi mengalami keterlambatan pada perkembagan kemampuan motorik kasar ini, perlu diwaspadai adanya gangguan pada otaknya.

2. Kemampuan motorik halus
Ditandai dengan gerakan memegang-megang bagian ujung pada telapak tangan di usia 3 bulan, perlahan-lahan mulai bisa memegang daerah yang lebih sempit yakni ujung jari. Kemampuan ini bisa dirangsang atau dipacu dengan Alat Permainan Edukatif (APE).

3. Kemampuan melihat
Bayi harus sudah bisa melihat pada usia 4 bulan. Cara memeriksanya dengan "Ci Luk Ba" yakni memberikan rangsang visual untuk mengajaknya bercanda. Jika bayi tidak memberikan respons tertentu misalnya tersenyum atau tertawa, maka kemungkinan ada gangguan pada otak bayi yang menghambat kemampuannya untuk melihat.

4. Kemampuan mendengar
Normalnya sejak usia 6 bulan dalam kandungan, bayi sudah punya kemampuan untuk mendengar. Karena itu saat bayi baru lahir, perlu dilakukan tes Refleks Moro yakni dengan menepukkan tangan di dekat telinga bayi. Jika bayi tidak menunjukkan refleks mengedipkan mata, perlu diwaspadai adanya gangguan pada perkembagan otaknya.
Baca Informasi Tanda-tanda Otak Bayi Ada yang Tidak Beres Lebih Lengkap >>

Kamis, 11 Agustus 2011

8 Tindakan yang Membantu Perkembangan Otak Bayi



Bayi menghabiskan hampir waktu terjaganya untuk menendang, melompat, atau mengayunkan lengannya. Bagi orang dewasa, aktivitas ini terlihat seperti gerakan biasa saja, padahal hal itu penting untuk menyadari bahwa bayi tak selalu "cuma bergerak" atau "cuma main-main". Setiap tindakan dan gerakan bayi penting untuk perkembangan bayi dalam hal-hal tertentu. Pergerakan tubuh membantu membentuk jalinan sel saraf dan sambungan pada otak ke seluruh tubuh, mulai dari bayi hingga dewasanya. Berikut adalah gerakan-gerakan yang penting untuk bayi:

1. Ayun-ayun bayi saat dipeluk
Saat si bayi menangis, kebanyakan orangtua secara intuitif akan menggendong sambil mengayunkan si bayi untuk menenangkannya. Anda tahu bahwa gerakan ini kemungkinan bisa menenangkan bayi. Namun, tahukah Anda bahwa gerakan ini juga bisa membantu perkembangan sistem vestibular (sistem gerak dan keseimbangan) anak, sekaligus memberinya ketenangan lewat sentuh, sensasi, serta menenangkan anak. Namun, pergerakan dan sensasi ini juga memicu perkembangan awal otak anak dan persiapan pertumbuhan visualnya. Perhatikan ayunannya juga, jangan terlalu kuat karena si anak bisa mual.

2. Berguling
Pergerakan pertama bayi sifatnya refleksif atau tidak disengaja. Berguling adalah gerakan yang diupayakan dan Anda bisa membantu anak berlatih berguling dengan dorongan sedikit. Saat bayi telentang, duduk di dekat kepalanya, sambil menggenggam mainan di atas kepalanya. Saat Anda sudah mendapatkan perhatian si anak, gerakkan perlahan mainan tersebut ke salah satu sisi tubuh si bayi sambil memberinya dorongan untuk menggapai mainan itu. Jika si bayi berguling, berikan mainan itu padanya. Anda bisa ulangi mainan itu di lain waktu.

3. Tumpukkan
Permainan tumpuk, Anda duduk, bayi berbaring di depan Anda, kakinya disampirkan di kedua paha atas Anda, sambil Anda berinteraksi dengannya, mengimitasi gerakan, saling sentuh, dan tepuk tangan ritmis, bisa memberi kesempatan bayi melihat, merasakan sentuh, serta mendengar suara Anda.

4. "Menyeberang"
Bayangkan tubuh bayi memiliki satu garis lurus dari atas tubuh ke bawah, yang membedakan kiri dan kanan bagian tubuhnya. Saat ia berbaring, coba iming-imingi ia benda yang ia sukai, awali dari bagian depan tubuhnya, lalu pelan, arahkan benda itu ke bagian yang berlawanan dengan tangan yang mencoba menggapai, kalau ia mengulurkan kedua tangannya, tahan salah satu tangannya. Dengan begini ia akan melatih saraf-saraf yang berseberangan antara otak kiri dan kanan. Nantinya, saat bayi mulai merangkak, letakkan benda atau mainan berwarna terang di atasnya supaya ia berusaha menggapai. Lakukan permainan ini selama ia menikmati permainan dengan tertawa.

5. Main air

Saat bayi sudah bisa duduk tanpa dibantu, coba letakkan ia duduk di sebuah ember besar berisi air hangat yang tingginya hanya mencapai pahanya. Jangan lepaskan pandangan Anda darinya. Ajak ia untuk bermain dengan air tersebut, bermain percik air akan membantunya melatih koordinasi tangan dan mata, serta melatih perut bagian atasnya.

6. Latihan berdiri
Membuat anak-anak belajar jalan atau berdiri terlalu cepat bukanlah ide yang bagus. Bayi akan mendapati kemampuan ini saat ia sudah merasa cukup mampu, tetapi mereka memang butuh bantuan dan kesempatan. Sebelum si bayi mendapati ia sudah siap untuk belajar berdiri atau berjalan, pastikan ia punya kesempatan untuk mencoba belajar berdiri sambil berpegangan pada benda-benda kokoh, seperti sofa atau meja yang kokoh. Jika Anda melihat ia mencoba berdiri sambil berpegangan dengan benda-benda yang berbahaya dan tidak kokoh, bantulah ia berdiri dan letakkan ia pada lokasi yang lebih aman. Jangan lupa untuk perhatikan dia, begitu Anda bantu ia berdiri, ada kemungkinan ia butuh bantuan untuk duduk kembali.

7. Latihan berjalan
Pada waktunya bayi akan belajar berjalan menggunakan bantuan furnitur. Saat ia berjalan tanpa bantuan, bayi akan menikmati menarik, mendorong, atau membawa obyek tertentu. Tak hanya aktivitas ini memberi latihan motorik anak, tetapi juga membantu pemahaman sebab-akibat pada anak.

8. Bergerak
Bayi perlu bergerak. Sulit untuk memahami apa dan mengapa alasan dari masing-masing gerakan. Namun, gerakan dibutuhkan oleh bayi untuk melatih motorik dan perkembangan otaknya. Berikan waktu, ruang, dan kesempatan untuk bayi bergerak.
Baca Informasi 8 Tindakan yang Membantu Perkembangan Otak Bayi Lebih Lengkap >>

Jumat, 05 Agustus 2011

Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak



Keterlambatan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat luas dan banyak, terdapat beberapa risiko yang harus diwaspadai untuk lebih mudah terjadi gangguan ini. Semakin dini kita mendeteksi kelainan atau gangguan tersebut maka semakin baik pemulihan gangguan tersebut.

Semakin cepat diketahui penyebab gangguan bicara dan bahasa pada maka semakin cepat stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut. Deteksi dini gangguan bicara dan bahasa ini harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini, mulai dari orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Pada anak normal tanpa gangguan bicara dan bahasa juga perlu dilakukan stimulasi kemampuan bicara dan bahasa sejak lahir bahkan bisa juga dilakukan stimulasi sejak dalam kandungan. Dengan stimulasi lebih dini digarapkan kemampuan bicara dan bahsa pada anak lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasinya. Penanganan keterlambatan bicara dilakukan pendekatan medis sesuai dengan penyebab kelainan tersebut. Biasanya hal ini memerlukan penanganan multi disiplin ilmu di bidang kesehatan, di antaranya dokter anak dengan minat tumbuh kembang anak, Rehabilitasi Medik, Neurologi anak, Alergi anak, atau klinisi atau praktisi lainnya yang berkaitan.

PENYEBAB
Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Berikut ini adalah beberapa penyebab gangguan bicara. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa. Namun bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah sebagai berikut:

GANGGUAN PENDENGARAN.
Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya. Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada keterlambatan bicara. Terdapat beberapa penyebab gangguan pendengaran, bisa karena infeksi, trauma atau kelainan bawaan. Infeksi bisa terjadi bila mengalami infeksi yang berulang pada organ dalam sistem pendengaran. Kelainan bawaan biasanya karena kelainan genetik, infeksi ibu saat kehamilan, obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil, atau bila terdapat keluarga yang mempunyai riwayat ketulian. Gangguan pendengaran bisa juga saat bayi bila terjadi infeksi berat, infeksi otak, pemakaian obat-obatan tertentu atau kuning yang berat (hiperbilirubin). Pengobatan dengan pemasangan alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami gangguan pendengaran tetapi kepandaian normal, perkembangan berbahasa sampai 6-9 bulan tampaknya normal dan tidak ada kemunduran. Kemudian menggumam akan hilang disusul hilangnya suara lain dan anak tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf degeneratif.

KELAINAN ORGAN BICARA.
Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf ”t”, ”n” dan ”l”. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti ”f”, ”v”, ”s”, ”z” dan ”th”. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti ”s”, ”k”, dan ”g”.

RETARDASI MENTAL
Redartasi mental adalah kurangnya kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah visuo-motor.

GENETIK HERIDITER DAN KELAINAN KROMOSOM
Gangguan karena kelainan genetik yang menurun dari orang tua. Biasanya juga terjadi pada salah satu atau ke dua orang tua saat kecil. Biasanya keterlambatan. Menurut Mery GL anak yang lahir dengan kromosom 47 XXX terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah. Sedangkan Bruce Bender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY mengalami kelainan bicara ekpresif dan reseptif lebih berat dibandingkan kelainan kromosom 47 XXX.

KELAINAN SENTRAL (OTAK)
Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat dalam bentuk kesulitan belajar.

AUTISME
Gangguan bicara dan bahasa yang berat dapat disebabkan karena autism. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

MUTISM SELEKTIF
Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.

GANGGUAN EMOSI DAN PERILAKU LAINNYA
Gangguan bicara biasanya menyerta pada gangguan disfungsi otak minimal, gejala yang terjadi sangat minimal sehingga tidak mudah untuk dikenali. Biasanya diserta kesulitan belajar, hiperaktif, tidak terampil dan gejala tersamar lainnya

ALERGI MAKANAN
Alergi makanan ternyata juga bisa mengganggu fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan salah satunya adalah keterlambatan bicara pada anak. Gangguan ini biasanya terjadi pada manifestasi alergi pada gangguan pencernaan dan kulit. Bila alergi makanan sebagai penyebab biasanya keterlambatan bicara terjadi usia di bawah 2 tahun, di atas usia 2 tahun anak tampak sangat pesat perkembangan bicaranya.

DEPRIVASI LINGKUNGAN
Dalam keadaan ini anak tidak mendapat rangsang yang cukup dari lingkungannya. Apakah stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan berbahasa? Penelitian menunjukkan sedikit keterlambatan bicara, tetapi tidak berat. Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau penelantaran anak.

Berbagai macam keadaan lingkungan yang mengakibatkan keterlambatan bicara adalah :

LINGKUNGAN YANG SEPI
Bicara adalah bagian tingkah laku, jadi ketrampilannya melalui meniru. Bila stimulasi bicara sejak awal kurang, tidak ada yang ditiru maka akan menghambat kemampuan bicara dan bahasa pada anak.

STATUS EKONOMI SOSIAL
Menurut penelitian Mc Carthy, orang tua guru, dokter atau ahli hukum mempunyai anak dengan perkembangan bahasa yang lebih baik dibandingkan anak dengan orang tua pekerja semi terampil dan tidak terampil.

TEHNIK PENGAJARAN YANG SALAH
Cara dan komunikasi yang salah pada anak sering menyebabkan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, karena perkembangan mereka terjadi karena proses meniru dan pembelajaran dari lingkungan.

SIKAP ORANG TUA ATAU ORANG LAIN DI LINGKUNGAN RUMAH YANG TIDAK MENYENANGKAN
Bicara bisa mengekspresikan kemarahan, ketegangan, kekacauan dan ketidak senangan seseorang, sehingga anak akan menghindari untuk berbicara lebih banyak untuk menjauhi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut.

HARAPAN ORANG TUA YANG BERLEBIHAN TERHADAP ANAK
Sikap orang tua yang mempunyai harapan dan keinginan yang berlebihan terhadap anaknya, dengan memberikan latihan dan pendidikan yang berlebihan dengan harapan anaknya menjadi superior. Anak akan mengalami tekanan yang justru akan menghambat kemampuan bicaranya.

ANAK KEMBAR
Pada anak kembar didapatkan perkembangan bahasa yang lebih buruk dan lama dibandingkan dengan anak tunggal. Mereka satu sama lain saling memberikan lingkungan bicara yang buruk, karena biasanya mempunyai perilaku yang saling meniru. Hal ini menyebabkan mereka saling meniru pada keadan kemampuan bicara yang sama –sama belum bagus.

BILINGUAL ( 2 bahasa)
Pemakaian 2 bahasa kadang juga menjadi penyebab keterlambatan bicara, namun keadaan ini tidak terlalu mengkawatirkan. Umumnya anak akan memiliki kemampuan pemakaian 2 bahasa secara mudah dan baik. Smith meneliti pada kelompok anak bilingual tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa, kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi.

KETERLAMBATAN FUNGSIONAL
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik, dan anak hanya mengalami gangguan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis lain.

DETEKSI DINI KETERLAMBATAN BICARA
Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan perkembangan. Demikian pula bila terjadi penurunan kemampuan berbahasa dan bicara seorang anak kita harus lebih mewaspadainya. Misalnya pada umur tertentu anak sudah bisa memanggil papa atau mama tetapi beberapa bulan kemudian kemampuan tersebut menghilang. Demikian pula dengan penurunan kemampuan mengioceh, yang sebelumnya sering jadi berkurang atau pendiam.

Beberapa tanda bahaya komunikasi yang yang harus diwaspadai terjadinya keterlambatan dan gangguan berbahasa dan bicara dapat dilihat:

TANDA BAHAYA GANGGUAN KOMUNIKASI
4 – 6 BULAN
1. Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orang tuanya;
2. Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh

8 – 10 BULAN
1. Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik perhatian;
2. Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya;
3. 9-10 bln, tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau menangis

12 – 15 BULAN
1. 12 bulan, belum menunjukkan mimik;
2. 12 bulan, belum mampu mengeluarkan suara;
3. 12 bulan, tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila membutuhkan sesuatu;
4. 15 bulan, belum mampu memahami arti "tidak boleh" atau "daag";
5. 15 bulan, tidak memperlihatkan 6 mimik yang berbeda;
6. 15 bulan, belum dapat mengucapkan 1-3 kata;

18 – 24 BULAN
1. 18 bulan, belum dapat menucapkan 6-10 kata;
2. 18-20 bulan, tidak menunjukkan ke sesuatu yang menarik perhatian;
3. 21 bulan, belum dapat mengikuti perintah sederhana;
4. 24 bulan, belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat;
5. 24 bulan, tidak memahami fungsi alat rumah tangga seperti sikat gigi dan telepon;
6. 24 bulan, belum dapat meniru tingkah laku atau kata-kata orang lain;
7. 24 bulan, tidak mampu meunjukkan anggota tubuhnya bila ditanya;

30 – 36 BULAN
1. 30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga;
2. 36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana, pertanyaan dan tidak dapat dipahami oleh orang lain selain anggota keluarga;

3 – 4 TAHUN
1. 3 tahun, tidak mengucapkan kalimat, tidak mengerti perintah verbal dan tidak memiliki
2. minat bermain dengan sesamanya;
3. 3,5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti "ayah" diucapkan "aya";
4. 4 tahun, masih gagap dan tidak dapat dimengerti secara lengkap.
Baca Informasi Penyebab Keterlambatan Bicara Pada Anak Lebih Lengkap >>