Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Bayi Baru Lahir Bisa Bertahan 48 Jam Tanpa Menyusu



Ibu yang baru saja melahirkan bayi kadang bingung dan khawatir karena air susunya (ASI) belum keluar. Tapi sebenarnya bayi yang baru lahir bisa bertahan hingga 48 jam tanpa menyusu. Jika ASI belum keluar, ibu tetap harus menjaga kontak kulit dengan bayi agar ia merasa nyaman.

"Bayi bisa bertahan 24-48 jam, karena ia sudah dibekali dari kandungan. Tapi yang terpenting jangan dipisahkan dari ibunya," ujar Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM saat ditemui disela-sela acara seminar 'Ibu Bekerja Bukan Alasan Menghentikan Pemberian ASI Eksklusif' di Hotel Birawa, Jakarta, Selasa (27/9/2011).

Dr Tami menuturkan ketika mendengar bayi menangis pasti yang terlintas pertama kali adalah bayi tersebut lapar sehingga harus disusui. Padahal bayi yang dipisahkan 6 jam saja dari ibunya akan memiliki tingkat stres yang 2 kali lipat lebih tinggi yang bisa membuatnya menangis.

Hal ini karena selama di kandungan bayi selalu dekat dengan ibunya, dan jika kadar hormon stresnya meningkat akan membuat daya tahan tubuhnya berkurang sebesar 50 persen.

Lebih lanjut Dr Tami mengungkapkan jika bayi menangis, maka gendonglah ia sehingga bisa mendapatkan skin to skin contact (kontak kulit) dengan ibu dan tetaplah berusaha menyusui agar bisa mendapatkan kolostrum meski hanya 1-2 tetes saja.

"Kolostrum ini berfungsi untuk membantu mematangkan usus bayi dengan menutup lubang-lubang yang ada di usus agar tidak diisi oleh benda-benda asing," ujar dokter yang berpraktek di di Klinik Lakstasi RS St Carolus Salemba.

Selain itu hampir sekitar 50 persen keberhasilan menyusui bergantung pada pikiran si ibu. Sedikit saja si ibu memiliki pikiran negatif maka akan langsung membuat produksi ASI-nya menjadi drop.

Dr Tami menjelaskan dari sisi kedokteran ada 2 hormon yang mempengaruhi ASI yaitu hormon prolaktin yang berfungsi memproduksi ASI dan hormon oksitosin yang berfungsi mengalirkan ASI.

"Hormon oksitosin terpengaruh oleh pikiran ibu, jadi kalau ibu sedang sedih, stres, kesel atau mangkel maka hormon oksitosin akan berkurang yang mempengaruhi produksi ASI," ungkapnya.

Untuk itu proses menyusui tidak hanya melibatkan 2 orang, tapi 3 orang yaitu ibu, bayi dan juga ayah. Dalam hal ini ayah memiliki kekuatan atau pengaruh yang cukup signifikan, atau disebut dengan breastfeeding gender.
Baca Informasi Bayi Baru Lahir Bisa Bertahan 48 Jam Tanpa Menyusu Lebih Lengkap >>

Sabtu, 03 September 2011

Metabolisme Bayi Lebih Baik Berkat ASI



Menyusui bayi yang baru lahir hanya dengan ASI terbukti meningkatkan metabolisme buah hati Anda.

Kita semua tahu bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bagi yang baru lahir hingga mencapai usia enam bulan, semakin baik bila pemberian ASI mencapai usia 2 tahun buah hati. Karena itulah, program pemberian ASI eksklusif semakin gencar. Jika Anda memutuskan untuk menyusui bayi Anda dan tidak bermasalah dengan jumlah ASI yang harus diberikan, inilah manfaat ASI berdasarkan penelitian terbaru.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Perancis, seperti diberitakan oleh Los Angeles Times menyebutkan bahwa para peneliti menemukan hasil penelitian selama tiga tahun bahwa bayi-bayi yang diberi ASI pada empat bulan setelah dilahirkan memiliki perbedaan pertumbuhan dan metabolisme dibandingkan bayi-bayi yang menerima asupan susu formula.

Penelitian tersebut dilakukan pada 234 bayi. Pada masa empat bulan awal setelah dilahirkan, mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok bayi pertama adalah bayi-bayi yang hanya mengonsumsi ASI, sedangkan pada kelompok kedua adalah bayi-bayi yang mengonsumsi susu formula yang memiliki kadar protein rendah hingga tinggi. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada dua kelompok tersebut.

Pada 15 hari setelah kelahiran, Times melaporkan bahwa bayi yang hanya meminum ASI menunjukkan level insulin yang lebih rendah dalam darah mereka dibandingkan bayi yang meminum susu formula. Sedangkan pada saat usia mereka menginjak tiga tahun, balita yang pada saat bayi mengonsumsi susu formula protein tinggi memiliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan bayi yang diberi ASI, walaupun hasil tersebut masih dianggap normal.

Hasil penelitian tersebut tidak hanya bertujuan untuk membeberkan manfaat ASI bagi bayi, tetapi juga pertimbangan para ibu yang memberikan susu formula. Pediatric Academic Societies yang melakukan pertemuan di Denver beberapa bulan lalu menyebutkan, "Jika memberikan ASI tidak memungkinkan, ada baiknya jika para orang tua memilih susu formula yang memiliki kemampuan metabolisme yang dekat dengan ASI," pada Times.
Baca Informasi Metabolisme Bayi Lebih Baik Berkat ASI Lebih Lengkap >>

Jumat, 26 Agustus 2011

ASI Sangat Bermanfaat Tapi Bukan untuk Mencegah Eksem



Banyaknya manfaat Air Susu Ibu (ASI) pada bayi memang tidak terbantahkan lagi. Namun jika ada yang menyebut ASI Ekslusif selama 6 bulan atau lebih bisa mencegah risiko eksem, penelitian terbaru membuktikan bahwa klaim itu berlebihan.

Anggapan bahwa ASI Eksklusif dapat mencegah eksem atau penyakit gatal-gatal di kulit pertama kali dimunculkan oleh pemerintah Inggris dan beberapa negara lain di Eropa. Dikatakan, bayi yang hanya disusui oleh ibunya selama kurang dari 4 bulan cenderung lebih rentan kena eksem.

Tanpa mengabaikan manfaat ASI yang lain, para ilmuwan dari King's College London mencoba membuktikan anggapan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, penelitian berskala multinasional ini melibatkan 51.119 anak usia 8-12 tahun yang dijaring dari 21 negara di Eropa, Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Selain menanyakan riwayat pemberian ASI pada para orangtua partisipan, peneliti juga melakukan pemeriksaan kulit dan tes alergi. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosis adanya risiko untuk mengalamui eksem, untuk selanjutnya dibandingkan dengan riwayat ASI Eksklusifnya.

Hasil analisis menunjukkan, tidak ada keterkaitan yang signifikan antara durasi mendapatkan ASI Eksklusif dengan risiko terkena eksem. Pada partisipan yang hanya mendapat ASI selama 4 bulan atau kurang punya risiko yang sama dengan paritisipan yang mendapat ASI selama 6 bulan seperti yang dianjurkan organisasi kesehatan dunia atau WHO.

Dr Carsten Flohr, salah satu peneliti yang terlibat mengatakan panduan memberikan ASI Eksklusif yang dikeluarkan pemerintah Inggris perlu diganti agar tidak menyesatkan. Setidaknya, bagian yang mengatakan bahwa ASI bisa mencegah eksem perlu dihilangkan.

Terlepas dari valid atau tidaknya kesimpulan tersebut, pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan tetap wajib dilakukan. Kalaupun ternyata benar-benar tidak melindungi bayi dari eksem, paling tidak ASI tetap memiliki nutrisi lain yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan daya tahan bayi.

"Tidak diragukan lagi bahwa ASI adalah nutrisi terpenting pada masa-masa awal kehidupan seorang bayi. Penelitian kami tidak mengubah hal itu," ungkap Dr Flohr dalam tulisannya di British Journal of Dermatology, seperti dikutip dari Healthday, Kamis (25/8/2011).
Baca Informasi ASI Sangat Bermanfaat Tapi Bukan untuk Mencegah Eksem Lebih Lengkap >>

Kamis, 18 Agustus 2011

Si Kecil Menggigit Saat Disusui?


Apakah bayi Anda seringkali menggigit saat disusui? Yuk simak tips dari seorang pakar menyusui berikut ini.

Sebagai ibu, tentunya Anda ingin selalu memberikan yang terbaik untuk bayi Anda, dan ASI adalah pilihan utamanya. Apalagi jika Anda tak punya masalah dengan ASI yang mogok keluar atau ada keluhan medis lainnya, tentu Anda tak keberatan memberinya ASI eksklusif bukan?

Namun pada beberapa kasus, sang ibu mogok memberikan ASI, dikarenakan si bayi gemar menggigit puting ibunya. Alhasil, sang ibu ngambek dan memilih memberikan susu kaleng atau mengambil ASI dengan alat pompa.

Sebenarnya, menyusui bayi dengan ASI, tak hanya memberikan nutrisi sehat secara langsung pada bayi. Namun, juga menjalin kedekatan antara ibu dan bayi. "Si kecil suka sekali menggigit puting, dan malah pernah suatu kali saat saya menyusuinya, ia menggigit puting saya hingga berdarah. Saya langsung mengangkatnya agar ia tak terkontaminasi darah saya. Tak dipungkiri, saya kesal juga terhadapnya," ungkap Ita, 32 tahun. Nah, ibu, menyusui adalah tetap sangat penting bagi bayi kita. Dan sudah kewajiban kita memberikan yang terbaik baginya. Jika memang si kecil suka menggigit puting dan menimbulkan rasa sakit atau luka, kita bisa mengatasinya kok.

Adalah Amy Spangler, MN, seorang konsultan ahli dan member dari Breastfeeding.com mengatakan, "bayi memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar, bahkan pada puting Anda. Karena ia masih belum mengerti, seringkali ia menganggap puting sebagai mainannya. Dan terkadang ia mengekspresikan perasaannya lewat gigitan. Sayangnya, ia justru menggigit puting Anda." Dalam mengatasi bayi, kita sebagai ibu harus mengajarkannya banyak hal dengan memberi contoh dan mengajaknya berkomunikasi. Ingat, walaupun belum bisa berbicara seperti Anda, bayi juga sudah bisa mengerti dan berkomunikasi dengan caranya sendiri.

"Pada umumnya, para ibu memberikan makanan padat terlebih dahulu sebelum memberi ASI. Atau memberi ASI, kemudian baru makanan padat. Mana yang benar? berikan makanan padat terlebih dahulu, kemudian baru ASI Anda," tutur Amy. Menurutnya, bayi menggigit karena terlalu lapar, marah atau hanya penasaran saja. Pastikan rasa laparnya dipuaskan oleh makanan padat terlebih dahulu, kemudian baru berikan ASI. Jika ia masih menggigit, lepaskan puting Anda dan katakan padanya hal tersebut tidak boleh dilakukan. "Hendaknya jangan langsung memberinya ASI, tunda setidaknya 10-15 menit. Dengan demikian si bayi mengerti bahwa menggigit adalah sikap yang tidak baik. Jika ia masih nekat menggigit. Tunda selama 30 menit," sambung Amy.

Memberikan makanan setelah ia menggigit, bagaikan memberinya award. Sehingga si kecil merasa bahwa hal itu diperbolehkan untuk dilakukan. Jadi, bersikaplah seolah ia memang sudah bisa diajak berbicara. Dan ajarkan sikap-sikap baik sejak dini. Selamat menyusui, para ibu.
Baca Informasi Si Kecil Menggigit Saat Disusui? Lebih Lengkap >>

1000 Hari Pertama sang Bayi Kunci Masa Depan Sepanjang Hidup



Banyak orangtua yang berjuang keras dan memberikan sekolah terbaik buat si anak demi masa depannya. Tapi sebenarnya kunci untuk kehidupan masa depan si anak bukan saat ia mulai sekolah melainkan di awal-awal hidupnya yakni 1000 hari pertama sejak di dalam kandungan (9 bulan) hingga ia berumur 2 tahun.

Periode 1000 hari pertama manusia itu, secara permanen dapat mempengaruhi kesehatan dan peluang si anak di masa depan dengan tubuh sehatnya. Periode tersebut menentukan apakah di masa depan si anak akan terkena diabetes, kelebihan berat badan hingga serangan jantung.

Teori ini dikembangkan setelah puluhan tahun diteliti oleh Profesor David Barker dan rekannya di Southampton University. Profesor Barker menemukan ada serangkaian tahapan yang kritis dalam perkembangan anak. Jika tahapan tersebut dilalui tidak sempurna maka akibatnya akan timbul di kemudian hari saat anak dewasa dan tua.

Profesor Barker percaya banyak masalah kesehatan yang muncul bisa ditelusuri kembali dengan melihat riwayat saat si anak di dalam rahim atau perkembangannya yang buruk di 2 tahun usia pertamanya.

Dicontohkannya, ibu yang mengonsumsi gizi buruk saat hamil, merokok, stres atau minum obat-obatan akan mempengaruhi seberapa baik plasenta bekerja dan bagaimana kondisi berat badan bayinya saat lahir.

Hasil penelitiannya menunjukkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg maka peluangnya terkena penyakit jantung di kemudian hari, 2 kali lebih besar dibandingkan bayi yang lahir dengan berat sampai 4,2 Kg.

Menurut Profesor Barker ketika makanan di rahim tidak mencukupi, itu sangat mempengaruhi pertumbuhan awal otak si janin dan membuat jantungnya melemah karena berkurangnya aliran darah. Lalu bibit-bibit diabetes juga akan muncul sebelum proses kelahiran karena sel-sel pankreas yang berfungsi membuat insulin, perkembangannnya ada di dalam rahim. Kondisi di dalam rahim juga akan mempengaruhi berat badan si anak di masa mendatang.

Profesor Barker mengatakan banyak faktor-faktor yang terbentuk sejak dini yang tidak bisa diubah atau dibatalkan. Maka itu penting untuk menjaga kesehatan perempuan dan makan dengan baik agar generasi berikutnya tumbuh dengan baik.

"Bayi hidup dari tubuh ibu selama kehamilan, jadi ini adalah tentang membangun tubuh bayi agar dapat hidup lebih baik," kata Profesor Barker seperti dilansir dari dailymail, Rabu (17/8/2011).

Itulah mengapa ibu hamil harus benar-benar sehat agar bisa juga memberikan air susu ibu (ASI) ke bayinya. ASI adalah makanan terbaik baik selama 2 tahun masa pertumbuhan badan dan otaknya.
Baca Informasi 1000 Hari Pertama sang Bayi Kunci Masa Depan Sepanjang Hidup Lebih Lengkap >>

Senin, 15 Agustus 2011

Rahasia Dua Jari untuk Pencet ASI



Sebagian besar kaum perempuan akan menggunakan pompa atau mesin untuk mengeluarkan ASI dari payudaranya. Tapi ibu-ibu di Filipina hanya menggunakan kekuatan jempol dan jari telunjuk saja untuk memompa ASI.

"Kami hanya menggunakan kekuatan jari jempol dan telunjuk untuk melakukan gerakan C and U position, kedua jari membentuk huruf C dan dilanjutkan dengan huruf U, jadi tidak pakai pompa ataupun mesin," ujar Diana Calderon, konselor laktasi dari Arugaan, Filipina dalam acara 'Oneasia Breastfeeding Partners Forum 7' di Grand Flora Hotel Kemang, Kamis (11/11/2010).

ASI yang sudah dipompa dengan menggunakan dua kekuatan jari ini akan ditampung dalam cangkir atau gelas, sehingga bayi tidak menggunakan botol susu. Dengan mengonsumsi susu melalui cangkir ini akan menghindari kondisi bingung puting dan juga melatih gerakan rahang bayi.

Lebih lanjut Diana menuturkan dalam proses menyusui sekitar 90 persen keberhasilannya dipengaruhi oleh psikologis si iu dan 10 persennya dari fisik ibu. Karenanya ibu menyusui harus tahu keuntungan kesehatan apa saja yang bisa ia dapatkan jika menyusui bayinya.

Cara memompa ASI dengan menggunakan dua jari ini juga diterapkan dalam situasi darurat seperti saat bencana Tifun di Filipina lalu. Para konselor akan memberikan program menyusui dengan memberitahu posisi menyusui yang benar serta memberikan pelatihan memijat untuk laktasi.

"Ayah juga memiliki peran dalam program menyusui ini, misalnya bisa membantu memijat istrinya yang akan memperlancar ASI sehingga membuat si ibu lebih fokus menyusui," ungkap Diana.

Diana menambahkan hal terpenting sebelum menyusui adalah mempersiapkan psikologis ibunya, seperti mengurangi stres atau cemasnya, serta memberikan pemikiran positif mengenai menyusui. Karena pikiran dan psikologis ibu sangat mempengaruhi aliran ASI yang keluar.
Baca Informasi Rahasia Dua Jari untuk Pencet ASI Lebih Lengkap >>

Jumat, 12 Agustus 2011

Ibu Menyusui Harus Dilindungi dari Gangguan-gangguan


Sukses tidaknya ibu menyusui Air Susu Ibu (ASI) sangat tergantung dari banyak faktor. Selain faktor dari dalam dirinya, sukses menyusui juga harus didukung faktor dari luar. Jangan sampai ibu menyusui gagal memberikan ASI akibat gangguan dari luar.

"Menyusui merupakan hal yang kompleks, jadi ibu menyusui juga harus dilindungi dari faktor-faktor luar," ujar Nia Umar yang menjabat sebagai ketua IKMI (Ikatan Konselor Menyusui Indonesia) disela-sela acara Temu Nasional Konselor Menyusui ke-1 di gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (11/8/2011).

Gangguan dari luar tersebut menurut Nia adalah gencarnya promosi dan iklan yang dilakukan oleh produsen susu formula. Padahal bayi yang sudah mengenal susu formula umumnya sulit untuk mau menyusu ASI kembali.

Untuk itu diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk melindungi ibu sehingga bisa menyukseskan program ASI eksklusif, serta dibutuhkan tekad dan motivasi dari ibu menyusui untuk mau memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.

"Para ibu menyusui harus dipagari dengan kuat agar tidak terpengaruh oleh faktor-faktor lain yang berasal dari luar sehingga bisa sukses menyusui, karena menyusui itu tantangannya banyak," ujar ibu dari 2 orang anak ini.

Nia menuturkan permasalahan yang ada saat ini adalah beberapa ibu merasa khawatir apakah ASI yang diberikan untuk buah hatinya sudah mencukupi atau belum. Padahal ASI yang dikeluarkan oleh ibu tidak bisa diukur seperti halnya membuat susu formula di botol.

Selain itu juga ada pemikiran bahwa memberikan bayi ASI atau susu formula itu sama saja. Padahal ada risiko-risiko tertentu yang mungkin terjadi jika bayi yang baru lahir diberikan susu formula, hal ini karena sistem pencernaannya belum berkembang secara optimal.
Baca Informasi Ibu Menyusui Harus Dilindungi dari Gangguan-gangguan Lebih Lengkap >>

ASI Eksklusif Tidak Bisa Ditawar-tawar Lagi



Jumlah ibu-ibu yang memberikan ASI (Air Susu Ibu) masih belum optimal. Untuk meningkatkan jumlah tersebut, diharapkan masyarakat menjadikan menyusui sebagai gaya hidup. Karena pemberian ASI eksklusif (6 bulan) tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Jadikan menyusui sebagai gaya hidup agar anak bisa tumbuh optimal dan anak tetap mendapatkan hak nya," ujar Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dr Slamet Rijadi Yuwono saat membacakan pidato Menkes di acara Temu Nasional Konselor Menyusui 1 di gedung Kemenkes, Kamis (11/8/2011).

"ASI eksklusif adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi kalau ingin menghasilkan masa depan yang optimal," lanjut dr Slamet Rijadi.

Pola pemberian makanan terbaik bagi bayi dan anak adalah memberikan ASI saja sejak bayi lahir sampai usia 6 bulan, meneruskan ASI sampai anak berusia 24 bulan dan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi mulai usia 6 bulan.

Pemberian ASI pada bayi tidak hanya sekedar rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tapi juga diakui oleh agama sebagai makanan bayi dan anak ciptaan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan makanan atau minuman lain. Selain itu ada banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh ibu dan juga bayi jika memberikan ASI pada buah hatinya.

"Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar anak dapat tumbuh optimal adalah memberikan makanan terbaik untuk anak, dan hal ini harus dipersiapkan sejak dini," ujar dr Slamet.

Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2004-2009, diketahui cakupan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif secara terus menerus dari usia 0-6 bulan meningkat dari 19,5 persen (2005) menjadi 34,3 persen (2009).

"Meskipun ada kenaikan cakupan, tapi keadaan ini belum menggembirakan sehingga diperlukan upaya yang makin kuat dan komprehensif diantara para pemangku kepentingan," ujar Menkes Endang Sedyaningsih.

Berbagai hal diketahui menjadi faktor yang mempengaruhi belum optimalnya pemberian ASI eksklusif, salah satunya adalah gencarnya promosi pemberian susu formula.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah belum optimalnya penerapan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui (10 LMKM) serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya ASI.
Baca Informasi ASI Eksklusif Tidak Bisa Ditawar-tawar Lagi Lebih Lengkap >>

Kamis, 11 Agustus 2011

ASI Eksklusif Kelak Bikin Anak Pintar Matematika



ASI adalah makanan dan minuman terbaik untuk bayi. Masih meragukannya? Penelitian terbaru menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan tumbuh menjadi anak yang lebih pintar dalam membaca, menulis dan matematika.

Dilansir Daily Mail, penelitian tersebut dibuat oleh Oxford University dan Institute for Social and Economic Research. Ada lebih dari 10 ribu anak yang menjadi responden penelitian itu.

Dalam penelitian itu, peneliti melihat skor tes murid-murid yang dulu mendapatkan ASI sampai usia mereka empat minggu dan dibandingkan dengan murid-murid yang diberi susu formula sejak baru lahir.

Menurut hasil penelitian tersebut, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan tumbuh menjadi anak yang lebih pintar. IQ bayi ASI lebih tinggi 3-5 poin ketimbang yang tidak disusui.

Begitu hebatnya ASI, efeknya langsung terlihat pada bayi yang baru empat minggu disusui ibu. Berdasarkan penelitian tersebut efek bayi ASI terlihat saat anak duduk di sekolah dasar. Anak yang waktu bayi mendapat ASI eksklusif, lebih pintar membaca, menulis dan matematika di usia 5, 7, 11 dan 14 tahun.

Salah satu peneliti, Maria Iacovou menjelaskan, asam lemak rantai panjang (long-chain fatty acids) yang terkandung di dalam ASI membuat otak bayi berkembang. Tak hanya itu, menyusui juga membuat ikatan antara ibu dan anak lebih kuat.

Bukan hanya untuk bayi, menyusui juga berguna bagi para ibu. Dengan menyusui, ibu bisa lebih terlindungi dari ancaman kanker ovarian dan payudara. Mengapa? Karena dengan menyusui memiliki efek pada keseimbangan hormon wanita.

Selain efek kesehatan, menyusui membantu ibu menurunkan berat badan usai melahirkan. Saat menyusui, 500 kalori terbakar setiap harinya. Bagaimana, semakin yakin dengan manfaat ASI?
Baca Informasi ASI Eksklusif Kelak Bikin Anak Pintar Matematika Lebih Lengkap >>

Minggu, 07 Agustus 2011

Alternatif Sehat Bagi Si Kecil



Tubuh bayi itu tampak kurus dan lemah. Terdapat benjolan sebesar bola bekel di selangkangan dan ketiaknya. Kondisi bayi yang berumur empat bulan itu sudah kritis ketika dibawa oleh ibunya ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, Jakarta. Dokter yang memeriksa menyimpulkan bayi tersebut sakit karena keracunan susu formula. Ibu sang bayi mengaku menderita hepatitis sehingga tidak mampu menyusui.

Melihat kondisi tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Farahdibha Tenrilemba kemudian memberikan akses kepada bayi itu agar mendapatkan donor air susu ibu (ASI). Selain itu, sang ibu juga diberi pelatihan agar dapat menyusui bayinya. Mengurangi ketergantungan bayi kepada susu formula, menurut dia, bukan perkara gampang. Perubahan rasa manis ke tawar biasanya yang menjadi penyebab bayi tidak menyukai ASI. Namun, dengan proses merangsang produksi ASI atau relaktasi, kendala tersebut bisa disiasati.

Ada banyak alasan para ibu tidak memberikan ASI esklusif. Sebagian besar, menurut Farahdibah, karena faktor psikologis. Tekanan pekerjaan, produksi ASI sedikit, dan tidak mendapat dukungan keluarga biasanya yang menjadi pemicu. Padahal secara statistik, hanya satu dari seribu ibu yang tidak dapat menyusui bayinya. Namun, ada juga alasan medis yang membuat wanita tidak dapat menyusui, seperti terinfeksi HIV, tuberkolosi, atau kekurangan gizi. Jika hal itu terjadi, maka susu formula bisa menjadi pilihan terakhir dalam mencukupi kebutuhan gizi bayi.

Susu formula berasal dari susu sapi segar yang telah melewati proses pasteurisasi atau pemanasan pada suhu tinggi. Beberapa produsen kemudian menambah kandungan kalori, protein, dan mineral yang tinggi pada susu, sebelum dikemas dengan steril. Jenis susu ini mudah diserap pencernaan bayi karena memiliki komposisi lemak yang tidak panjang.

Menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, dokter Saptawati Bardosono, penggunaan susu formula harus berdasarkan rekomendasi dokter. Komposisi susu formula memang disusun mendekati gizi ASI. Tapi produk itu bukan berarti tanpa risiko bagi si kecil. Penelitian yang dilakukan di negara maju menunjukkan ada banyak risiko dari meminum susu formula. Infeksi telinga tengah, diare, asma, kegemukan, diabetes mellitus, hingga sindrom kematian bayi mendadak, hanyalah sebagian dari risikonya bila digunakan secara tak hati-hati.

Karena itu, ahli naturopati Riani Susanto merekomendasikan bayi meminum susu organik yang berasal dari hewan atau tumbuhan sebagai penggganti susu formula. Susu kemasan ataupun formula yang berasal dari perahan sapi industri, menurut dia, tidak aman dikonsumsi. Sapi-sapi itu biasanya telah disuntik hormon dan diberi antibiotik sehingga mencemari susu.

Hewan-hewan yang menghasilkan susu organik dipelihara secara alami di lahan terbuka, tanpa diberi hormon, antibiotik atau rekayasa genetik. Untuk susu dari kedelai, tanamannya tidak diberi pestisida dan bahan kimia lain. Produk akhir susu organik diolah tanpa perasa dan pemanis buatan. Proses pembuatan ini membuat harganya lebih mahal dibanding susu kemasan lain. Di negara maju jenis susu tersebut sudah banyak diproduksi. Alokasi subsidi pemerintah ke sektor peternakan turut mendorong keberhasilan produk tersebut. Para peternak menjadi melek teknologi, sadar pada kelestarian lingkungan, dan risiko kesehatan.

Di Indonesia produk susu organik masih jarang diperjualbelikan. Para peternak lokal masih dalam tahap menyediakan susu segar. Namun, hewan atau tanaman penghasil susunya belum diolah secara organik. Susu segar lokal biasanya telah melewati proses pasteurisasi, kemudian dikemas dengan steril, tanpa tambahan kandungan gizi. Namun karena susu segar biasanya berasal dari industri rumahan, faktor kebersihan dan kandungan nutrisi di dalamnya biasanya tidak terjamin. Saptawati tidak menyarankan anak berumur di bawah satu tahun mengkonsumsi susu segar.

Susu sapi murni, kata dia, memiliki kandungan protein dan garam mineral tinggi. Hal ini membuat susu sulit dicerna usus bayi dan membebani fungsi ginjal. “Kandungan gizi susu sapi murni tidak sesuai dengan kebutuhan bayi,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Hal serupa juga terjadi untuk susu yang berasal dari hewan lainnya. Susu kedelai, menurut dia, bukanlah susu, dalam arti bisa memberi zat gizi untuk bayi. Ia menyarankan bayi yang diberi susu kedelai tetap diberikan ASI atau susu formula sesuai dengan rekomendasi dokter.

Orang tua bisa memberikan susu segar kepada anak berusia satu hingga lima tahun, sebagai alternatif susu sapi formula. Metabolisme anak umur satu hingga lima tahun sudah dapat mengkonsumsi susu cair. Dari segi harga, susu segar relatif lebih murah dibandingkan susu formula. Bahan bakunya bisa berasal dari susu hewan atau keledai.

Selain dari sapi, susu segar yang umum dipasarkan saat ini adalah susu kambing. Susu ini memiliki asam lemak lebih pendek ketimbang dari sapi sehingga mudah dicerna anak. Selain itu, susu kambing bisa menjadi pilihan untuk anak yang menderita alergi terhadap susu sapi, baik dalam bentuk bubuk maupun cair. Alergi bisa terjadi karena anak tidak punya atau kekurangan enzim laktase sehingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi.

Kandungan serat susu kedelai bermanfaat memberi energi pada anak, ditambah lagi vitamin B, E, dan K yang terdapat pada susu ini. Meski kandungan proteinnya lebih rendah dibanding susu sapi — dua gelas susu kedelai setara dengan satu gelas susu sapi-namun harganya lebih lebih murah dibandingkan jenis susu lain, menjadikan susu kedelai sebagai alternatif yang baik.

Dokter spesialis anak Rifan Fauzie menilai, anak berumur satu hingga lima tahun membutuhkan susu sebagai pelengkap gizi. Anak yang sudah dapat menerima makanan padat, membuat asupan protein bisa diperoleh dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

Orang tua yang memilih susu segar untuk anak, harus memperhatikan proses penyajian dengan benar. Seringkali dalam porses pasteurisasi ataupun pemanasan, kandungan vitamin dan mineral pada susu malah hilang. Ditambah lagi, pemrosesan yang tidak benar membuat bakteri jahat pada susu masuk ke tubuh anak.

Jika bayi tidak memiliki akses terhadap ASI dan susu formula karena faktor keuangan, Rifan menyarankan orang tua kembali ke air tajin. Air ini merupakan cairan hasil dari menanak nasi. Kandungannya terdapat karbohidrat yang berasal dari beras, tapi gizinya jauh di bawah susu hewan, kedelai, ataupun ASI. “Tapi ini harus alternatif paling akhir.”
Baca Informasi Alternatif Sehat Bagi Si Kecil Lebih Lengkap >>

Rabu, 03 Agustus 2011

Susah Buang Air Besar Pada Bayi


Pola buang air besar pada bayi memang berubah-ubah. Nah bagaimana Anda bisa tahu bahwa pola buang air besar pada bayi Anda masih tergolong normal?

Pola Buang Air Besar Bayi Pada Umumnya

Untuk bayi yang baru lahir, normalnya ia akan buang air besar hingga sebanyak 4 kali setiap hari. Ini akan berlangsung sampai ia berusia 7 hari. Untuk anak berusia 2 tahun, termasuk normal jika ia dapat buang air besar (BAB) 1-2 kali tiap harinya. Anak usia 4 tahun sudah sama pola BAB-nya dengan orang dewasa – 1 kali setiap hari.

Nah, karena tidak setiap anak memiliki pola yang persis sama, maka umumnya seorang bayi atau anak akan dianggap mengalami sembelit, jika ia tidak BAB hingga 2 minggu atau lebih.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir jika melihat bayi Anda sepertinya berjuang keras, bahkan terkadang sampai memerah ketika sedang BAB, padahal terkadang fesesnya encer dan tidak keras. Dia kan masih belajar! Anda juga harus ingat… bayi Anda melakukan BAB sambil berbaring lho, tidak seperti orang dewasa… Jadi, reaksi-reaksi seperti ini masih tergolong normal.

Kapan Situasinya Menjadi Gawat?

Jika Anda mendapati bayi Anda mengalami kondisi seperti berikut ini, maka segeralah periksakan ke dokter:

1. Feses/kotoran yang keras
2. Demam
3. Terdapat darah pada kotorannya
4. Berat badannya sulit naik
5. Gagal BAB untuk pertama kalinya dalam 24 jam setelah kelahiran

Bayi dalam Periode ASI Eksklusif

Jika bayi Anda masih dalam periode ASI eksklusif -alias belum memperoleh asupan selain ASI- maka masih tergolong normal jika ia tidak BAB hingga 1 minggu. Bahkan terkadang setelah 1 minggu pun fesesnya sama sekali tidak keras.

Hal ini disebabkan oleh ASI yang masih sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi Anda dan ini juga berarti sebagian besar ASI dapat diserap dengan baik oleh tubuhnya.
Baca Informasi Susah Buang Air Besar Pada Bayi Lebih Lengkap >>