
Para ibu selalu mensterilkan botol susu, menggunakan sabun anti bakteri, pembersih, dan akan melakukan apapun demi kesehatan buah hati. Sayangnya, pada waktu bersamaan, jumlah anak yang menderita alergi bukannya menurun malah meroket jika dibandingkan 30-40 tahun silam. Mengapa bisa demikian? Apakah ada kemungkinan hal ini dikarenakan kita terlalu ekstrim dalam melindungi anak?
Cara kerja imun bayi
Perlu ibu ketahui, agar dapat berkembang maksimal, sistem imun buah hati (sayangnya) perlu berlatih 'memerangi' kuman. Bayi yang baru lahir memang mendapat perlindungan dari ASI yang ibu berikan, namun ASI sendiri takkan mampu melindunginya dari semua jenis bakteri/ kuman penyakit.
Ketika sistem imun bertemu dengan bakteri yang belum pernah dihadapinya sebelumnya, maka imun tersebut akan mengirim antibodi untuk melawan bakteri. Kadang bakterilah yang menang dan anak jadi sakit, mungkin demam atau batuk. Namun setidaknya dari pengalaman tersebut, sistem imun sudah 'merekam' si bakteri, dan lain hari saat bakteri itu menyerang lagi, maka sistem imun sudah lebih siap menghadapinya.
Suntikan imunisasi juga bekerja dengan prinsip yang sama, memperkenalkan jenis bakteri/ kuman dengan sistem imun sehingga imun bisa siap menghadapi serbuan kuman yang lebih besar nantinya. Melihat cara kerja sistem imun di atas, boleh dikata bahwa perlindungan yang terlalu ekstrim justru hanya akan melemahkan daya tahan tubuh anak.
Lalu, bagaimana cara melindungi bayi dengan sewajarnya?
1. Cuci tangan. Seiring bertumbuhnya buah hati, ajari ia untuk melakukannya juga, terutama setelah dari WC atau sebelum makan.
2. Tetap sterilkan botol susu dan pentilnya. Susu merupakan sarang bakteri yang bisa menyebabkan timbulnya radang lambung dan usus. Selalu buang susu tersisa, tak perlu memanaskannya ulang karena bisa memicu pertumbuhan bakteri.
3. Bersihkan area pantat secara teratur untuk mencegah timbulnya ruam dan infeksi akibat pemakaian popok. Untuk bayi perempuan, cara membersihkannya adalah dari depan ke belakang.
4. Hati-hati terhadap makanan. Biarkan makanan beku hingga kembali ke suhu kamar sebelum diolah. Ibu juga perlu mewaspadai pengolahan telur, selalu masak telur hingga matang untuk menghindari infeksi bakteri salmonella. Sedapat mungkin jauhkan telur mentah dalam kulkas dari makanan lainnya. Jika ibu memanaskan ulang makanan (lakukan hanya sekali saja), panasi dengan temperatur tinggi, dan biarkan makanan hingga benar-benar dingin sebelum disimpan dengan wadah di dalam kulkas.
Artikel Terkait
- Risiko Autis Bisa Dideteksi dari Kemampuan Motorik Bayi 7 Bulan
- Demam Saat Bayi Tumbuh Gigi Hanya Mitos
- ASI Sangat Bermanfaat Tapi Bukan untuk Mencegah Eksem
- Tes untuk Mengetahui Cacat Jantung Bawaan Pada Bayi
- Sleep Apnea, Apa Itu?
- Susah Buang Air Besar Pada Bayi
- Tips Memandikan Bayi
- Cara Menghilangkan Kerak di Kepala Bayi
- Hati-hati Terhadap Kejamnya Kereta Dorong Bayi
- Bayi Prematur Sebaiknya Dirawat di Rumah?
- Penyebab Rambut Rontok Pada Bayi
- 6 Kebiasaan Pemicu Ruam Popok
- Tindakan Dini Atasi Ruam Popok
- 6 Cara Agar Bayi Aman Sejak Hari Pertama di Rumah
- 8 Tindakan yang Membantu Perkembangan Otak Bayi
- Alternatif Sehat Bagi Si Kecil
- Manfaat dan Tata Cara Pijat Bayi
- Bayi Disayang Jadi Tahan Stres
- Banyak Tidur, Pertumbuhan Bayi Makin Baik
- Membuat Bayi Gemar Membaca